Panen Kroto

Aktifitas panen kroto merupakan tantangan tersendiri dalam budidaya semut rangrang. Entah itu di rak maupun dengan metode semi alam, panen tetaplah sulit dilakukan apalagi oleh pemula.

Kemampuan dan keterampilan memanen telur semut kroto sangat mempengaruhi jumlah hasil telur kroto yg kita dapatkan. Secara teori memang hanya sedikit merusak sarang dan mengambil telur. Namun pada prakteknya pada saat kita menyentuh sarang ada ribuan semut yg keluar dan pasti menyerang. Semut secara naluri mempertahankan sarang dari gangguan.
Latihan dan praktek panen harus sesering mungkin kita lakukan. Pada proses ini, semakin sedikit intimidasi terhadap sarang semakin bagus. Proses harus dilakukan dengan tepat dan cepat. Tidak berhenti sampai disini, pembersihan atau pemisahan antara kroto dan semut juga perlu ketelitian.
Panen Kroto Berpengaruh pd Kelangsungan Koloni

 

Peternak yg mahir melakukan panen memungkinkan utk meminimalisir kematian pada semut. Dalam hal ini kita perhatikan tekanan yg kita berikan pada proses panen. Kerusakan sarang sesedikit mungkin sehingga perajutan kembali menjadi cepat.
panen kroto

Panen Kroto Sistem Rak

Pemulihan sarang juga tergantung agresifitas semut pasca panen. Jika kematian akibat tekanan, himpitan atau apapun banyak terjadi, maka otomatis populasi berkurang. Perlu waktu untuk memulihkan jumlah semut pada koloni. Semut dewasa yang ada juga akan sibuk mengurusi bangkai semut yang mati sebelum kembali normal.

Pemanenan hendaknya memilih waktu sore dan malam hari, pada saat agresifitas semut rangrang berkurang. Maksimal semut yang dipanen 30%, karena semut tetap butuh sarang inang utk perlindungan disaat sarang yang ada krotonya kita rusak. Jika kita panen semua dan merusak semua sarang pada media budidaya dalam rak, maka semua semut dalam rak berhamburan tanpa ada tempat tenang utk bernaung sementara, sampai sarang dipulihkan. Hal ini memicu semut terjun dan kabur.
Intimidasi berlebihan juga akan semut saling bunuh karena agresifitas yg tidak seimbang.

Contoh cara panen kroto dalam media toples diperagakan oleh Kang Dwi Gimbal di kandang KrotoJogja. Pemanenan hendaknya dilakukan sore atau malam hari untuk menghindari agresifitas semut. Hasil rata-rata per toples per 20 hari adalah 25gr pada periode Agustus-Januari dan 45gr pada periode Februari-Juli karena terpengaruh cuaca dan musim calon ratu.

Print Friendly, PDF & Email

Related Images: