Ternak Kroto Semi Alam

Metode ternak kroto semi alam dalam beternak semut kroto menggunakan pepohonan sebagai habitat asli. Namun begitu metode ini masih jarang dipakai dikarenakan selain banyak keuntungan yang didapatkan juga memerlukan bermacam modal serta mempunyai beberapa kelemahan.

Adapun syarat utama dari menggunakan metode semi alam adalah ketersediaan lahan yang cukup. Syarat pokok lain adalah adanya tanaman sebagai sarang pokok seperti habitat asli. Hal ini sangat sulit dilakukan di perkotaan karena keterbatasan lahan dan perbandingan penggunaan lahan antara bisnis ternak kroto dengan usaha lain yang tentunya memungkinkan lebih banyak hasil.

Persiapan Ternak Semi Alam

Mari sedikit kita ulas tentang hal-hal yang perlu diperhatikan dalam cara budidaya semut kroto menggunakan metode ternak kroto semi alam.

  1. Ketersediaan lahan yang cukup. Kepadatan populasi semut bergantung pada kondisi daun pohon inang sarang dan luasnya lahan. Dalam hal ini kondisi tanah harus subur dan bebas dari materi limbah yang akan berakibat buruk pada pohon dan tentusaja semut. Luas lahan masih akan tersita oleh spasi jarak pohon ke pagar tepi serta parit pembatas.
  2. Pemilihan ragam jenis pohon harus disesuaikan dengan habitat pohon tumbuh, misalnya ketinggian tempat dan kondisi tanah berada. Hal ini masih harus disesuaikan lagi dengan syarat pohon yang sesuai untuk sarang kroto diantaranya tidak bergelugut, diutamakan bukan pohon getah, dan juga ukuran daun tidak terlalu kecil.
    Kriteria wajib jenis pohon adalah pohon buah atau yang sudah pernah berbuah, misal hasil dari cangkok atau stek. Pohon yang belum pernah berbuah tidak memiliki zat yang menarik aphid sehingga pakan alami semut kroto kurang terpenuhi. Dalam hal ini harfiah pohon buah bukan saja buah yang dimakan manusia, namun setiap pohon buah bisa digunakan, hanya saja hasil sampingan buah kita sesuaikan saja dengan keinginan peternak. Misalnya pohon ketapang, preh, mengkudu, mahoni dll juga termasuk dalam kriteria ini.
    Diutamakan pohon keras, sehingga daya hidup awet tidak terlalu sering pembaharuan pohon, meskipun beberapa perdu dan rumput berdaun besar juga bisa saja digunakan, hanya saja ketinggian dan umur pohon kurang maksimal.
    Pilihlah pohon dengan keawetan layu daun yang tinggi agar sarang semut tidak terlalu sering berpindah, minimal satu kali periode telur yakni 26 hari. Pohon buah yang bergetah masih bisa digunakan hanya saja pada proses pemanenan agak sedikit mengganggu.
    Untuk pohon aromatik, baiknya kita coba dalam skala kecil terlebih dahulu. Kita ketahui bahwa semut sangat sensitif terhadap bau apalagi yang bersifat racun, meskipun bau-bauan yang tidak nyaman buat manusia bukan berarti tidak nyaman untuk semut.
    Untuk pohon yang mengandung racun seperti pohon tuba, keluarga srirejeki dan lain-lain mungkin saja tidak berbahaya bagi semut akan tetapi menimbulkan potensi bahaya bagi peternak serta konsumen kroto karena pada proses pemanenan dipastikan ada getah atau cairan dari sumber racun pohon yang tercampur.
  3. Parit pembatas antara lahan pohon sarang dengan lahan luar. Jika dalam sistem rak kita hanya memerlukan pengaman atau pembatas rak 7 cm saja maka hitungan lebar parit pembatas lahan diukur dari panjang daun pohon yang terlebar yang ada di dalam lahan. Hal ini untuk mengantisipasi bocornya isolasi lahan karena guguran daun, buah, bunga ataupun sampah kayu.
    Kedalaman minimal parit hendaknya disesuaikan dengan perencanaan ikan yang akan kita tabur. Fungsi ikan dalam parit selain membersihkan residu dan jentik nyamuk juga agar sirkulasi air tetap bergerak. Pengalaman yang terjadi jika air terlalu tenang maka tumpukan sampah lembut ringan bisa dijadikan sarana jembatan. Karena selain enteng, naluri semut untuk ekspansi daerah perburuan juga tinggi. Dengan adanya ikan, maka usaha melarikan diri semut akan menarik perhatian ikan. Entah dimakan atau tidak, ketika ikan bergolak di area kabur semut maka proses pembentukan jembatan oleh semut akan gagal.
    Bentuk parit melingkar mengelilingi lahan, dengan sudut bibir dinding dalam parit melengkung tanpa sudut, karena akan berpotensi terjadi konsentrasi semut pada sudut karena ada kecenderungan semut membuat jalur di tepian lahan. Untuk mengurangi potensi ini ketinggian bibir dalam parit dibuat rata dengan dataran lahan. Sementara ketinggian dinding parit luar dibuat lebih tinggi untuk keamanan ikan.

Budidaya semut rangrang penghasil kroto dengan menggunakan metode semi alam memang terlihat sangat mudah. Penampakan dari media dan habitat murni mirip dengan kehidupan semut rangrang di alam liar.

Namun begitu bukan berarti kita tidak perlu mempertimbangkan baik dan buruknya metode ini. Ada beberapa kelemahan yang disini kami titik beratkan. Yang nantinya semoga kelemahan atau kekurangan metode ini dapat kita teliti dan pelajari. Hingga akhirnya kita dapatkan tehnik budidaya kroto modern yang dapat dilakukan siapa saja dan dimana saja berada.

Beberapa pertimbangan dalam budidaya semut kroto dengan menggunakan metode semi alam:

Kelemahan Ternak Kroto Semi Alam

  1. Mutlak memerlukan modal awal yang banyak. Lahan, parit pembatas, serta pengadaan pohon inang sebagai sarang semut. Lahan diutamakan datar karena sangat berhubungan dengan parit pembatas, lahan berundak dalam kemiringan membutuhkan dana lebih untuk pengkotakan parit.
  2. Kesulitan proses pemanenan. Hampir bisa dipastikan menggunakan proses manual, seperti penyogrok kroto tradisional. Perbedaan lahan budidaya hanyalah pada jarak sarang ke sarang yang bisa dibuat lebih padat serta pengaturan ketinggian pohon memudahkan pemanenan.
  3. Untuk peternak pemula, susah untuk mengetahui umur telur kroto sehingga diharapkan mendapatkan berat maksimal pada saat panen. Selain dengan menggunakan metode hafalan tanggal, mengetahui bobot maksimal kroto pada sarang agak ribet dilakukan karena harus dengan menyentuh sarang langsung.
  4. Memakan tempat yang luas. Perbandingan efektifitas tempat sangatlah jauh, selain untuk penempatan pohon masih diperlukan spasi untuk parit dan jarak ke pagar.

Kelebihan Metode Semi Alam

  1. Hemat gula sebagai campuran minuman. Kita ketahui untuk sistem rak kita butuh setidaknya 1 kg gula berbanding 6 liter air untuk mengelola 6 rak semut berisi sekitar 700-900 toples per hari rata-rata. Khusus untuk minuman bisa kita hilangkan, karena debit air pada pucuk daun/buah ataupun di ground tanah dan parit sudah lebih cukup. Semut tetap akan tertarik minum tanpa bantuan gula karena proses alam sudah sangat sempurna mencampur air ke dalam makanan dalam wujud serangga ataupun zat pohon.
  2. Irit pakan karena berbagai faktor. Selain karena pepohonan dan tanah juga merupakan habitat serangga dan hewan kecil pada umumnya yang notabene disukai semut, beberapa serangga yang pola hidupnya simbiosis dengan semut dan pohon buah juga cukup untuk pemenuhan zat gizi untuk semut seperti berbagai jenis aphid.
    Vareasi bentuk pakan lebih leluasa karena tidak perlu mempertimbangkan efek buruk pembusukan pakan seperti pada sistem rak yang rata-rata kandang dekat dengan hunian. Sebagai contoh jika daging dan tulang harus kita cacah dan diberikan sedikit demi sedikit pada sistem rak, maka di dalam metode semi alam daging dari hewan buangan bisa langsung kita berikan. Proses pembusukan di dalam lahan bahkan akan mengundang serangga lain yang memicu terbentuknya makanan baru seperti belatung dan larva-larva lain. Pilihan ragam dari hewan atau makanan sisa juga lebih leluasa, hanya saja perlu kita perhatikan jika lahan berbatasan dengan lahan lain yang berbeda fungsi.
  3. Tidak perlu modifikasi tempat untuk penyesuaian suhu. Bisa dilakukan di lingkungan dengan suhu ekstrim sebagai misal daerah khatulistiwa yang selama ini kita kesulitan karena terlalu panas. Wilayah panas seperti Kalimantan, Nusa Tenggara, Jawa dataran rendah serta beberapa propinsi di Sumatera terutama Lampung, Sumatra Selatan, Riau, Jambi dan lain sebagainya. Semut mempunyai keahlian tersendiri dalam menata sarang yang notabene dari daun, tentang letaknya, sirkulasi udara, intensitas cahaya, kelembaban dan priorotas jalur sudah tertanam dalam naluri semut.
    Hal ini juga berlaku untuk daerah sedang dan terlalu dingin. Semut bisa dibilang jago dalam manajemen suhu. Hal awal sebagai gambaran kecocokan lahan, bisa kita survey atau dilihat dari sejarah keberadaan semut di daerah tersebut pada masa lalu. Jika memang pernah ada habitat semut di alam, maka metode semi alam bisa dianggap cocok di daerah tersebut. Rata-rata daerah tropis di Asia memang adalah habitat asli dari semut kroto atau rangrang (oechophylla smaragdina).
  4. Bisa tumpangsari dengan pohon produktif. Kita ketahui bahwa kebanyakan serangga parasit pada pohon terutama pohon buah sangat digemari semut. Beberapa aphid parasit dan lalat buah, sejenis ngengat atau rayap perusak pohon, belalang, ulat dan parasit lainnya akan terkontrol dengan adanya semut pada pohon.
    Jika pengendalian hama memerlukan satu jenis insektisida untuk satu jenis serangga pengganggu, maka semut kroto multi fungsi untuk pengendalian berbagai macam hama. Satu-satunya kesulitan yang ditimbulkan adalah karena gigitan semut itu sendiri mengganggu kita pada saat pengelolaan pohon dan hasil pohon.
  5. Jaminan kesuburan ratu. Aphid sebagai penyedia pokok gizi ratu yang notabene tidak dapat kita buatkan alternatif tersedia dalam jumlah banyak dan berkesinambungan. Ini menjadi sangat vital dikarenakan sampai saat ini tidak ada penelitian yang menghasilkan alternatif aphid yang mudah, murah, dan kontinyu selain dari pohon inang sarang semut itu sendiri.
  6. Momok musim calon ratu yang disusul pejantan pada budidaya semut dapat kita minimalisir, karena meskipun hasil dari kroto tidak terlalu bagus pada musim ini, namun kekurangan pakan serta ongkos operasional pemeliharaan dapat tertutup tanpa kendala berarti.
  7. Efektifitas prosentase keberhasilan pembuatan ratu. Serangga koloni pada umumnya dan termasuk semut melakukan prosesi kawin terbang dalam perkembangbiakannya. Ini berlaku hampir pada sebagian besar serangga kolonial, meski seranga tidak bersayap tetapi calon ratu dan pejantan yang muncul akan bersayap walaupun pada akhirnya rontok ketika musim kawin berakhir.
    Prosesi kawin terbang pada semut kroto memungkinkan calon ratu tidak bisa seutuhnya kembali lagi ke tempat semula. Hal ini salah satu kelebihan ternak kroto semi alam daripada budidaya dengan rak.
    Setelah prosesi kawin terbang, caltu akan mengasingkan diri di sekitar koloni. Banyaknya daun memungkinkan calon ratu mendapatkan tempat bertapa tanpa adanya gangguan dari koloni primer sebelum akhirnya memisahkan diri dari koloni primer untuk membuat koloni sendiri.
Score Artikel
[Total: 0 Average: 0]

Copied!