Ratu Semut Rangrang

Sudah kita bahas sedikit tentang ratu semut rangrang pada artikel Kasta Semut. Untuk lebih luasnya mari kita ulas pada artikel ini.

Sub bahasan kali ini kita bagi menjadi beberapa bagian menurut perkembangan ratu mulai dari telur, larva, calon ratu ( ratu sebelum perkawinan ) hingga ratu dewasa.

Fungsi Ratu Semut Rangrang pada Kelangsungan Koloni

Apakah bisa budidaya semut tanpa ratu? Jika memang bisa, lalu apakah fungsi ratu semut diciptakan? Sebelum kita jawab pertanyaan diatas mari kita ulas fungsi dari ratu semut. Sebelumnya baca juga ulasan tulisan tentang perkawinan ratu dan kasta semut.

  1. Fungsi fertilitas
    Kita ketahui bersama bahwa semut pekerja, perawat, dan juga ratu semut adalah betina. Hanya saja dari ketiganya cuma ratu semut yang bisa melakukan perkawinan dengan pejantan. Bahkan semut perawat sama sekali tidak bisa bertelur karena ukuran kantung telur yg terlalu kecil. Alhasil, hanya ratu semut yg tidak mandul alias fertil.
    Pernah kita bahas tentang perkawinan haploid ratu semut. Ratu semut kawin dengan beberapa ekor pejantan dan menyimpan sperma pejantan dalam kantung sperma pada perut bagian bawah ratu semut bernama spermatecha. Sperma ini digunakan untuk membuahi telur ratu seumur hidupnya.
    Yang unik adalah misteri fertilitas semut pekerja. Karena semut pekerja alat kelaminnya secara fisik non aktif, mereka tidak bisa mendapatkan sperma langsung dari pejantan. Semut pekerja setelah bisa berjalan dan mendapatkan makanan akan ‘sowan’ menghadap ratu untuk minta bagian sperma yg akan digunakan utk seumur hidupnya juga.
    Itu berarti bahwa semut pekerja yang selama hidupnya tidak pernah bertemu ratu akan menjadi betina infertil alias mandul. Bisa kita coba dengan memisahkan semut tanpa ratu, maka semut-semut tersebut masih bisa bertelur dan menetas karena memang pernah bertemu ratu, namun semut-semut baru yg menetas tersebut tidak akan bisa menetaskan telurnya. Alhasil jika semut dibudidayakan tanpa ratu hanya akan bertahan seumur dua generasi, antara 3-7 bulan. Waktunya relatif tergantung usia pekerja fertil ketika dipindahkan.
    Tanda-tanda kepunahan populasi semut tanpa ratu adalah banyaknya semut dewasa tanpa ada larva baru yg muncul, dan semut terlihat lebih besar ukurannya, lebih gelap, warna cenderung ke arah merah tua, dan tidak ada sarang baru.
    Hal ini tidak saja terjadi pada budidaya semut tanpa ratu, tapi bisa juga terjadi pada populasi semut yg over, sehingga jangkauan ratu tidak bisa mencakup seluruh populasi secara maksimal karena kekuatan ratu terbatas.
  2. Fungsi produktifitas
    Bisa dikatakan ratu semut adalah kunci pokok perkembangan populasi semut. Tugas pokok ratu semut adalah bertelur, bertelur dan bertelur. Ratu semut hanya diam dan bertelur setiap saat, tak perlu berburu karena ratu semut makan disuapi semut pekerja, dan bahkan untuk ratu semut berukuran besar proses mobilitasnya bergantung pada semut pekerja. Semut-semut pekerja pulalah yg mengatur tata letak telur ratu semut, mengangkut dan menyebarkan ke seluruh sarang untuk kemuadian dibesarkan oleh semut perawat dan pekerja.
    Dalam pengamatan singkat kami di kandang KrotoJogja, seekor ratu semut dewasa berumur 2 tahun mampu mengeluarkan telur setiap 48 detik sekali. Itu berarti ada ratusan telur semut setiap hari yg dihasilkan oleh ratu semut. Dan kelebihan dari telur ratu semut adalah dijamin fertil serta seragam.
    Semut pekerja hanya mempunyai kesempatan bertelur ketika dia tidak mendapat tugas, menyuapi ratu atau larva, berburu, membuat sarang, berjaga dan lain sebagainya. Dan tentu saja harus dalam keadaan bernutrisi cukup karena dalam hal ini semut pekerja berburu makanan sendiri tanpa ada yang menjamin. Semut pekerja akan mengeluarkan satu butir telur per hari diawali dengan diam menempel di dinding sarang secara berkelompok.

Bisa kita simpulkan bahwa budidaya semut tanpa ratu adalah mustahil, dan perlu kita pertimbangkan kekuatan ratu dalam setiap populasi ternak karena lingkungan rak budidaya terbatas teritorialnya. Seekor ratu semut mampu membawahi maksimal 8 liter semut. Kelebihan populasi semut dalam satu teritori ratu semut akan mengakibatkan ratu semut mengecil, kurus, ditandai dengan berubahnya warna dari kuning/coklat ke kehitaman.

Calon Ratu Semut

Calon Ratu adalah larva biasa yang karena asupan hormon akan tumbuh dengan ukuran lebih besar. Terlihat ketika larva umur 5 hr. Putih bening dengan ukuran menonjol. Usia 15 hr sudah terlihat organ tubuhnya, dan usia 17 hr menghitam sampai umur 25 hr sudah berjalan.

 ternak kroto jogja
calon ratu masih bersayap

Perut masih gepeng warna hitam kekuningan. Sayap masih agak kisut, belum kemilau. Umur 1-2,5 bulan perut membulat, badan semakin kemilau dan kehijauan. Sudah mulai bergaul dgn pejantan(hitam kecil bersayap. Umur 3 bulan berangsur dr hijau ke warna kuning kemilau, sudah mulai bertelur meskipun masih sedikit. Diatas 5 bulan warna perutnya mulai terlihat kusam hingga umur 6-8 bulan mulai terlihat menghampiri pejantan.
Setelah perkawinan dgn penjantan mk pejantan akan mati, dan berangsur calon ratu membesar perutnya agak kuning kusam bergaris hitam pada usia 9 bulan ke atas. Sayapnya rontok. Inilah ratu sesungguhnya.

Kesimpulan:
Pada periode larva calon ratu produksi kroto berkurang karena pekerja terkuras untuk menyuapi calon ratu dan pejantan.
Bila kondisi koloni tidak balance antara jumlah pekerja, pejantan, calrat, semut kecil pemelihara, suplai pakan dan tempat utk koloni baru maka calon ratu dan pejantan akan DIBANTAI.
Ratu bukanlah pemimpin, hanya petelur. Pengatur komando tetap ada pada semut pekerja.

Hal-hal Yang Perlu Diwaspadai Pada Musim Calon Ratu

Musim calon ratu (caltu) adalah momok menakutkan bagi peternak budidaya semut kroto. Hampir sebagian besar alasan kegagalan adalah karena periode musim caltu.

Kita semua tahu bahwa musim caltu adalah masa penurunan produksi kroto. Bahwa kroto jika dalam artian adalah pupa semut pekerja (semut prajurit), jumlahnya kurang dari biasanya karena tersita oleh jumlah kroto yang bukan pekerja, dalam hal ini pupa calon ratu dan pejantan. Sebenarnya tidak serta merta berkurang. Dilihat dari jumlah, total pupa kurang lebih sama. Hanya saja besaran jumlah pupa caltu dan pupa semut jantan menguasai lebih dari 60% jumlah kroto yang ada pada periode tersebut. Dari hitungan berat pun tidak jauh berbeda. Namun dikarenakan secara fisik pupa caltu mempunyai ukuran jauh lebih besar, maka keseluruhan produktifitas tersita dominan pada pupa caltu, yang dari perkembangannya pun lebih lambat.

Kesimpulan yang penting pada musim caltu yang terjadi kurang lebih di sepertiga akhir musim kemarau ( tidak bersamaan, berbeda bbrp pekan pada tiap blok daerah), adalah bahwa regenerasi pekerja menurun dalam hitungan populasi. Hal ini menjadi momok yang menakutkan karena jika jumlah pekerja yang ada tidak memenuhi kuota untuk menyuapi seluruh kroto koloni termasuk pupa caltu dan semut jantan, maka keadaan koloni terancam.

Titik berat permasalahan pada musim caltu adalah:

  1. Kroto (pupa) calon ratu dan pejantan tidak bisa mencari makan mandiri, sangat bergantung pada pekerja. Baca: Artikel Calon Ratu
  2. Calon ratu jauh lebih besar dari pekerja. Itu berarti membutuhkan banyak semut pekerja untuk menyuapi seekor calon ratu, dari masih larva hingga bahkan ketika sudah jadi ratu.
  3. Jumlah semut pejantan 5-8 kali lebih banyak dari jumlah calon ratu. Tidak berdasarkan dari jumlah pekerja. Dan kita tahu, bahwa pejantan yang notabene tidak produktif dan mati setelah kawin itu pun membutuhkan pekerja untuk menyuapi. Baca: Artikel Semut Jantan
  4. Musim semut jantan (semut hitam bersayap) selalu mengikuti musim caltu, ini berarti lonjakan beban pada semut pekerja pada waktu yang berbarengan.
  5. Umur larva calon ratu semut rangrang hingga produktif menjadi ratu minimal 6 bulan, sementara umur pekerja hanya 3-7 bulan. Ini berarti membutuhkan minimal dua generasi semut pekerja aktif berkesinambungan untuk menghidupi larva calon ratu hingga menjadi pupa sampai akhirnya menjadi ratu.
  6. Seleksi calon ratu menjadi ratu semut rangrang sangatlah ketat, baik itu dari koloni maupun seleksi alam. Perlu diketahui bahwa potensi keberhasilan di alam saja tidak lebih dari 5%.
  7. Faktor keberhasilan calon ratu menjadi ratu yg hanya 5% ditambah kematian pejantan setelah kawin berarti mengurangi lebih dari total 50% koloni selama periode ini.
  8. Prosesi kawin terbang, seperti halnya semua serangga koloni (rayap, semut, dst). Disimpulkan bahwa pada prosesi kawin terbang ini tidak semua calon ratu bisa kembali ke tempat semula. Karena notabene kandang semut adalah tempat terisolir. Ditambah predator seperti katak, cicak, tokek dst sangat hafal dengan periodik kawin serangga koloni.
  9. Setelah prosesi kawin berhasil dan selamat sampai kandang pun calon ratu masih harus berpuasa bbrp hari sebelum membentuk koloni sendiri. Pada saat ini ratu muda masih rentan, dan bahkan bisa dimusuhi oleh prajurit koloni asal jika tempat persembunyian mudah diakses prajurit koloni.
  10. Periode ini berlangsung paling cepat 3 bulan dan tanpa campur tangan peternak yang berpengalaman bisa molor sampai lebih dari 7 bulan hingga bersambung ke periode calon ratu berikutnya.
  11. Fakta lapangan bahwa kebanyakan penjual bibit semut kroto tidak bisa memproduksi ratu sendiri. Yg ini monggo dicari tahu sendiri.

Artikel ini hanya sebagai masukan berdasarkan pengalaman ternak KrotoJogja, semoga sedulur2 sekalian memahami beberapa kesulitan beternak semut kroto (rangrang) sebelum memulai, sehingga ada kesiapan jka terjadi masalah dalam beternak. Silahkan monggo melihat2 ke kandang KrotoJogja sebagai referensi atau bahan pertimbangan sebelum berbudidaya.

Perkawinan Ratu

Sekitar 3 bulan setelah periode calon ratu, atau sekitar pancaroba pepindahan dari musim kemarau ke penghujan akan tiba periode perkawinan ratu. Diawali dari menetasnya larva semut jantan, dengan ciri-ciri berwarna hitam, kecil, dan bersayap.

Perilaku pejantan yg berkelompok dan biasanya berada di tempat yg lbh tinggi dari sarang bisa dibaca sebagai proses ritual perkawinan ratu. Pejantan atau dlm bhs ilmiah disebut drones menunggu kedatangan calon ratu utk dikawini. Tempatnya lbh tinggi drpd sarang dan lebih longgar krn membutuhkan sirkulasi udara lebih. Maka sering kita jumpai bahwa sarang yg sudah jadi dirusak dgn bantuan semut pekerja.
Setelah calon ratu datang, bbrp ekor pejantan aksn mengerumuni. Hanya calon ratu saja yg kawin, meskipun semut pekerja semua betina dan bertelur. Drones/pejantan akan memasukkan spermanya ke dlm spermatecha, semacam bank sperma, kantung oval dkt ujung perutnya. Sperma ini akan disimpan utk membuahi telur-telur selama sisa akhir hidupnya. Setelah cukup dibuahi, calon ratu akan bergetar sbg tanda cukup, dan drones akan mati tak lama kemudian.
Calon ratu lalu mencari tempat dan berpuasa selama proses telur pertama. Calon ratu akan memakan sayapnya utk menyuapi telur-telur pertama, sehingga tetasan pertama ini nantinya berukuran kecil krn kurang asupan gizi. Namun sangat berperan dlm proses pengembangan koloni pertama. Masa ini calon ratu semut rangrang tidak disuapi, hanya mengandalkan sayapnya sendiri. Ini adalah masa riskan seleksi pembentukan ratu.
Sperma yg disimpan dalam kantung spermatecha secara fisiologis akan dinon aktifkan, dikeluarkan secara single maupun gumpalan, untuk membuahi telurnya sendiri maupun telur semut pekerja.

Kesalahan Pada Sarang Ratu Semut Rangrang yang Berakibat Fatal

Perlu diketahui bahwa ratu semut rangrang wajib membutuhkan pengawal dari semut pekerja maupun semut perawat. Ada lebih dari 500 ekor semut mengerubung ratu silih berganti, dan masing-masing bertugas menyuapi makanan ratu semut, mengatur telur yg keluar dari perut ratu semut serta membantu perpindahan ratu semut.
Oleh karena itu toples tempat ratu semut harus didesain agar terbuka, dengan pintu keluar masuk yang banyak dan lebar untuk hilir mudik semut pengawal ratu. Kurangnya jalan keluar masuk ke arah ratu mengakibatkan ratu kurang pasokan makanan dan berakibat tidak produktif serta menjadi kurus dan bahkan berakibat kematian.

Bahaya lain dari kurangnya jalur ke arah ratu semut rangrang akan mendorong pekerja untuk membawa ratu ke arah tempat yang lebih ideal untuk ratu semut bersarang. Pada proses perpindahan ini jika pintu keluar masuk terlalu sempit namun oragan ratu seperti kaki atau kepala dapat keluarmaka semut dari luar akan menarik sekuat tenaga dan karena perut ratu yg notabene lebih besar tidak muat akhirnya putuslah badan ratu. Bahkan ketika salah satu kaki ratu putus punsangat berpotensi menimbulkan pembantaian ratu.
Idealnya ratu diletakkan dalam toples terbuka dan diletakkan pada pertemuan jalur rangka kandang/rak. Dekatkan wadah makanan dengan toples ratu sehingga pasokan terjamin, namu beri sedikit jarak agar penumpukan makanan tidak terjadi di toples ratu. Aktifitas perburuan di sekitar ratu semut secara berlebihan juga mengakibatkan ratu tidak nyaman dan memicu perpindahan.
Ratu tidak mempunyai hormon pengenal mandiri, namun mempunyai hormon penarik yg hanya berfungsi jika bereaksi dengan feromon pekerja. Artinya, untuk ratu baru tanpa koloni sedikitpun akan tidak dikenali jika langsung dicampur dengan koloni besar, dianggap asing dan hanya akan dibantai oleh koloni. Untuk ratu baru dengan koloni bawaan meskipun tidak banyak cenderung aman dicampurkan dengan koloni besar. Ratu baru tanpa pengawal sedikitpun perlu perlakuan khusus, yakni tempatkan ratu pada satu meja/rak kosong di dalam toples terbuka, beri seekor pekerja, tunggu beberapa saat sampai terjadi kontak. Beri lagi pekerja hingga terjadi kontak dan begitu seterusnya sampai kira-kira jumlah pekerja cukup. Pemberian pekerja setelah ada beberapa pekerja yg kontak fisik dengan ratu bisa dilakukan berkelompok. Saat pengawal sudah cukup,ratu dalam toples plus pekerja sudah siap dicampurkan ke dalam koloni besar.

Outbound dan Jip Wisata Jogja


Ratu semut biasa saling tarik menarik dengan ratu semut lain dalam satu koloni dan akhirnya ratu minor akan ditarik ke dalam sarang/toples ratu dominan. Jika besaran dan sirkulasi toples memungkinkan, hal ini bisa terjadi hingga puluhan ekor ratu semut.
Untuk rak bambu, toples ratu semut tinggal diletakkan pada pertemuan tiang rak kandang dalamkeadaan terbuka menghadap ke bawah, untuk rak dengan alas triplek letakkan toples ratu seperti pada rak bambu hanya saja perlu diganjal pada bagian bawahnya dengan bilah bambu ataupun potongan kardus dst.

Mengamankan Calon Ratu dari Alam

Banyak dr kita yg ngebet pengen punya ratu, dan meningkatkan volume perburuan. Stock ratu di alam semakin menipis krn perburuan, dikhawatirkan ada efek berantai munculnya hama secara besar-besaran.
Banyak jg yg mencoba menangkarkan calon ratu dr alam, dan akhirnya calon ratu hanya mati sia-sia terbantai.
Breeding ratu jauh lebih sulit drpd sekedar menangkarkan semut. Selain proses adaptasi, calon ratu juga harus melewati seleksi dari koloni. Pemahaman tentang keseimbangan komponen koloni mutlak diperlukan.

Dgn ilmu yg terbatas, perburuan hanya akan mempercepat kepunahan. Dalam waktu 1,5 tahun pemeliharaan oleh peternak profesional calon ratu dr alam hanya akan jadi ratu tidak melebihi 2%.
Perburuan calon ratu sudah terlambat. Idealnya perburuan calon ratu adalah akhir musim kemarau, jd kita dapatkan larva calon ratu serta indukan-indukan yg telah siap dgn hormon larva ratu. Larva akan lbh mudah adaptasi di dalam habitat toples, dan eksodus koloni akan membuat caltu di media toples.
Solusinya?

Karena periode ratu tidak sama tiap daerahnya, maka baiknya kita ambil aman dgn menunda perburuan sampai sekitar awal Juli. Menunggu ratu jadi di alam.
Ah tapi keburu diambil orang to?. Nah ada sedikit solusi, siapkan rak kecil dalam jumlah banyak. Kira-kira 50×50. Siapkan kardus besar pd masing2 rak (nek nggonku kerdus rokok). Pada satu blok wilayah perburuan yg pohonnya masih bersinggungan semut buruan kita jadikan satu dalam satu wadah karung. Pisahkan hasil buruan dr blok lain ke dalam karung lain.Begitu seterusnya.

Semut hasil buruan dr alam tadi kita masukkan kedalam kardus. Masing2 satu karung ke dalam satu kardus di atas rak yg sudah kita siapkan tadi. Tanpa proses embel2 dan perlakuan macem2, langsung ditaruh saja. Beri makan dan minum seperti biasa. Pd sistem ini kemungkinan ratu jadi 5%.

Menggabungkan Ratu dengan Koloni Baru

Untuk ratu hasil buruan biasanya tidak disertai semut pekerja pendukung ratu. Jika langsung kita letakkan di rak dgn koloni besar ada sedikit masalah meskipun tidak sering terjadi. Ketika ratu kita letakkan, ada semacam perebutan ratu antar sub koloni. Satu kelompok menarik ke arah toples

A,. Kelompok yang lain menarik ke toples

B. Hal ini menyebabkan cacat fisik seperti putus kaki, putus antena dst. yang memicu keluarnya cairan dlm tubuh ratu sehingga asumsi semut yg baru bergabung dlm proses ini menganggap ratu cacat atau bahkan dianggap buruan. Ini yg memicu pembantaian.

Solusinya adalah kita siapkan rak kecil untuk karantina.

Kita masukkan ratu ke dalam toples kosong, ambil beberapa semut pekerja dan tunggu sampai mereka berinteraksi.

Semut pekerja akan mendatangi dan bergumul dgn ratu, menarik dan mendorong dengan arah yg kompak.

Tambahkan sedikit demi sedikit hingga terjadi gumpalan semut. Pada proses ini mereka akan mulai menyuapi ratu, dan ratu akan merespon dgn bertelur bbrp saat kemudian.
Setelah beberapa jam, toples ratu siap dicampur ke dalam koloni besar.
NB: toples utk ratu dilubangi kecil, agar ratu tidak bisa keluar toples tp semut pekerja dpt leluasa masuk utk menyuapi ratu dan memindah telur keluar. Namun hanya untuk sementara, perhatikan efek sarang ratu semut seperti yang sudah tertulis di artikel atas.

Menggemukkan Ratu

Ratu semut dewasa normal berukuran diameter perut 5mm-9mm. Sering kita jumpai dalam budidaya semut di dalam populasi rak ratu semut yg kita letakkan tadinya gemuk lama kelamaan terlihat mengecil dan kurus. Hal ini terjadi karena dua hal, nutrisi tidak seimbang dan atau ratu terlalu bekerja keras karena over populasi, sehingga jumlah semut yg bergantung terlalu banyak.

Cara menggemukkan ratu paling mudah adalah dengan memasukkan ke dalam media karantina. Karantina paling efektif adalah dengan meletakkan ratu beserta kira-kira 2 liter pekerja ke dalam pohon yg pada pucuk rantingnya terdapat serangga bernama aphid, yaitu serangga kecil bening kehijauan yg bersimbiosis dengan semut. Aphid mendapatkan perlindungan dari predator sementara semut memanfaatkan cairan manis yg dihasilkan oleh aphid yg sering kita sebut madu daun.
Jarak dua minggu dari kita meletakkan ratu ke dalam pohon ber aphid akan terlihat ratu semakin gemuk dan bisa diletakkan kembali ke dalam habitat rak.
Kelemahan dari sistem ini adalah koloni semut tidak aman dari gangguan predator, serta tidak dapat dikontrol terlebih jika pohon terlalu besar. Hal ini dapat kita atasi dengan membuat tabulampot di tengah kolam. Pohon yg memungkinkan dihuni aphid dan bisa ditanam dalam media pot adalah sejenis jeruk, nangka, mengkudu, dan lain sebagainya.
Cara lain adalah dengan meletakkan ratu semut dalam populasi kecil dan diberikan madu murni secara terus menerus. Untuk karantina ini kita perlu memberikan pakan tambahan berupa larva tawon, belatung lalat ataupun sejenis larva lainnya. Namun begitu, hasil dari sistem karantina ini tetaplah tidak sebagus daripada karantina pohon yg notabene lebih mendekati alami.


Score Artikel
[Total: 7 Average: 4.9]

Copied!