Sarang Semut

Banyak sekali pertanyaan tentang apa dan bagaimana sarang semut rangrang penghasil kroto.

 

Semut adalah makhluk sosial yg pertahanan hidupnya sangat tergantung koloni. Dalam kegiatan apapun, mulai dr berburu, membangun sarang, merawat telur dst saling berkaitan antara individu satu dgn yg lainnya. Artinya, kelangsungan generasi akan terjaga jika semut dlm keadaan bersama. Seekor semut sendirian yg terisolir akan segera mati meskipun disitu tersedia banyak makanan.
Dalam kegiatan berburu, satu kelompok kecil atau bahkan seekor pun dapat mengatasi mangsa buruan. Tp dalam aktifitas merajut sarang semut, perlu kelompok besar semut. Bahkan, hampir setengah koloni dibutuhkan semut bekerja sama bergandengan utk kemudian membuat rajutan sarang dgn bahan dr mulut larva. Semakin lebar jarak dinding media, semakin banyak pula semut yg dibutuhkan. Dapat kita simpulkan bahwa desain media yg lebih sempit memungkinkan pembuatan sarang semut yg lbh cepat.


sarang semut rangrang kroto semi alamSarang semut berwarna putih tipis berbentuk labirin. Bentuk sarang acak disesuaikan berfungsi mengatur fentilasi udara yg terkait kelembaban dan suhu serta intensitas pencahayaan. Sarang semut terbentuk dr serat protein yg berasal dr mulut larva, diurai untuk kemudian dirajut secara bersama-sama oleh semut pekerja.

Hubungan Sarang Semut dengan Media Budidaya

Butuh sejumlah larva dlm satu periode bertelur untuk membentuk 2 kali lipat sarang koloni. Itu berarti butuh satu tetasan larva dari 1 liter koloni semut untuk membuat 2 liter sarang baru. Efektifitas hasil kroto tentunya bergantung pd sisa larva yg tidak dibuat sarang.
Solusi dari pemborosan sarang yg berdampak pd hasil kroto adalah desain media yg berdinding dekat, bersekat, atau dengan bantuan kertas. Peletakan media yg berhimpitan akan dianggap sebagai ruang baru untuk semut yg menyulitkan ketika kita akan memisahkan media utk dipanen ataupun dipindahkan.

Harus kita perhitungkan volume yg tercipta dari penghimpitan toples agar tidak terjadi inkonsentrasi koloni.
Inkonsentrasi koloni adalah terpecahnya kerumunan semut pekerja karena terlalu banyak toples kosong atau ruang yg tersedia, akibatnya proses pembentukan sarang akan lama dan mempengaruhi waktu jeda bertelur.
Idealnya, kita hanya boleh menambah toples kosong saat kroto akan menjadi semut, ditandai dgn menghitamnya bbrp organ kroto. Penambahan ruang maksimal 30% dari jumlah koloni aktif agar pembuatan sarang mencapai waktu tersingkat.

Penambahan dilakukan berulang ketika toples baru sudah selesai dirajut. Terlalu cepat menambahkan toples kosong jg mengakibatkan pindahnya pekerja perajut sehingga toples akan ditinggalkan dan makanan yg terlanjur dibawa masuk ke dalam toples akan membusuk serta menimbulkan amoniak yg bisa mengakibatkan kematian.

Print Friendly, PDF & Email