Perkawinan Ratu

Kroto Jogja

Kroto Jogja, Foto oleh : Girindra Dwi Wardhana

Sekitar 3 bulan setelah periode calon ratu, atau sekitar pancaroba pepindahan dari musim kemarau ke penghujan akan tiba periode perkawinan ratu. Diawali dari menetasnya larva semut jantan, dengan ciri-ciri berwarna hitam, kecil, dan bersayap.


Perilaku pejantan yg berkelompok dan biasanya berada di tempat yg lbh tinggi dari sarang bisa dibaca sebagai proses ritual perkawinan ratu. Pejantan atau dlm bhs ilmiah disebut drones menunggu kedatangan calon ratu utk dikawini. Tempatnya lbh tinggi drpd sarang dan lebih longgar krn membutuhkan sirkulasi udara lebih. Maka sering kita jumpai bahwa sarang yg sudah jadi dirusak dgn bantuan semut pekerja.
Setelah calon ratu datang, bbrp ekor pejantan aksn mengerumuni. Hanya calon ratu saja yg kawin, meskipun semut pekerja semua betina dan bertelur. Drones/pejantan akan memasukkan spermanya ke dlm spermatecha, semacam bank sperma, kantung oval dkt ujung perutnya. Sperma ini akan disimpan utk membuahi telur-telur selama sisa akhir hidupnya. Setelah cukup dibuahi, calon ratu akan bergetar sbg tanda cukup, dan drones akan mati tak lama kemudian.
Calon ratu lalu mencari tempat dan berpuasa selama proses telur pertama. Calon ratu akan memakan sayapnya utk menyuapi telur-telur pertama, sehingga tetasan pertama ini nantinya berukuran kecil krn kurang asupan gizi. Namun sangat berperan dlm proses pengembangan koloni pertama. Masa ini calon ratu tidak disuapi, hanya mengandalkan sayapnya sendiri. Ini adalah masa riskan seleksi pembentukan ratu.

Sperma yg disimpan dalam kantung spermatecha secara fisiologis akan dinon aktifkan, dikeluarkan secara single maupun gumpalan, untuk membuahi telurnya sendiri maupun telur semut pekerja.

Print Friendly, PDF & Email