Musim Calon Ratu – Faktor Kegagalan

Musim calon ratu (caltu) adalah momok menakutkan bagi peternak budidaya semut kroto. Hampir sebagian besar alasan kegagalan adalah karena periode musim caltu.

Sebelum membahas tentang musim calon ratu baiknya kita baca ulang beberapa artikel tentang calon ratu dan pejantan terlebih dahulu.

musim calon ratu

calon ratu semut kroto dan pejantan

Kita semua tahu bahwa musim caltu adalah masa penurunan produksi kroto. Bahwa kroto jika dalam artian adalah pupa semut pekerja (semut prajurit), jumlahnya kurang dari biasanya karena tersita oleh jumlah kroto yang bukan pekerja, dalam hal ini pupa calon ratu dan pejantan.

Sebenarnya tidak serta merta berkurang. Dilihat dari jumlah, total pupa kurang lebih sama. Hanya saja besaran jumlah pupa caltu dan pupa semut jantan menguasai lebih dari 60% jumlah kroto yang ada pada periode tersebut.

Dari hitungan berat pun tidak jauh berbeda. Namun dikarenakan secara fisik pupa caltu mempunyai ukuran jauh lebih besar, maka keseluruhan produktifitas tersita dominan pada pupa caltu, yang dari perkembangannya pun lebih lambat.

Kesimpulan yang penting pada musim caltu yang terjadi kurang lebih di sepertiga akhir musim kemarau ( tidak bersamaan, berbeda bbrp pekan pada tiap blok daerah), adalah bahwa regenerasi pekerja menurun dalam hitungan populasi.

Hal ini menjadi momok yang menakutkan karena jika jumlah pekerja yang ada tidak memenuhi kuota untuk menyuapi seluruh kroto koloni termasuk pupa caltu dan semut jantan, maka keadaan koloni terancam.

Titik berat permasalahan pada musim caltu adalah:
1. Kroto (pupa) calon ratu dan pejantan tidak bisa mencari makan mandiri, sangat bergantung pada pekerja. Baca: Artikel Calon Ratu
2. Calon ratu jauh lebih besar dari pekerja. Itu berarti membutuhkan banyak semut pekerja untuk menyuapi seekor calon ratu, dari masih larva hingga bahkan ketika sudah jadi ratu.
3. Jumlah semut pejantan 5-8 kali lebih banyak dari jumlah calon ratu. Tidak berdasarkan dari jumlah pekerja. Dan kita tahu, bahwa pejantan yang notabene tidak produktif dan mati setelah kawin itu pun membutuhkan pekerja untuk menyuapi. Baca: Artikel Semut Jantan
4. Musim semut jantan (semut hitam bersayap) selalu mengikuti musim caltu, ini berarti lonjakan beban pada semut pekerja pada waktu yang berbarengan.
5. Umur larva calon ratu hingga produktif menjadi ratu minimal 6 bulan, sementara umur pekerja hanya 3-7 bulan. Ini berarti membutuhkan minimal dua generasi semut pekerja aktif berkesinambungan untuk menghidupi larva calon ratu hingga menjadi pupa sampai akhirnya menjadi ratu.
6. Seleksi calon ratu menjadi ratu sangatlah ketat, baik itu dari koloni maupun seleksi alam. Perlu diketahui bahwa potensi keberhasilan di alam saja tidak lebih dari 5%.
7. Faktor keberhasilan calon ratu menjadi ratu yg hanya 5% ditambah kematian pejantan setelah kawin berarti mengurangi lebih dari total 50% koloni selama periode ini.
8. Prosesi kawin terbang, seperti halnya semua serangga koloni (rayap, semut, dst). Disimpulkan bahwa pada prosesi kawin terbang ini tidak semua calon ratu bisa kembali ke tempat semula. Karena notabene kandang semut adalah tempat terisolir. Ditambah predator seperti katak, cicak, tokek dst sangat hafal dengan periodik kawin serangga koloni.
9. Setelah prosesi kawin berhasil dan selamat sampai kandang pun calon ratu masih harus berpuasa bbrp hari sebelum membentuk koloni sendiri. Pada saat ini ratu muda masih rentan, dan bahkan bisa dimusuhi oleh prajurit koloni asal jika tempat persembunyian mudah diakses prajurit koloni.
10. Periode ini berlangsung paling cepat 3 bulan dan tanpa campur tangan peternak yang berpengalaman bisa molor sampai lebih dari 7 bulan hingga bersambung ke periode calon ratu berikutnya.
11. Fakta lapangan bahwa kebanyakan penjual bibit semut kroto tidak bisa memproduksi ratu sendiri. Yg ini monggo dicari tahu sendiri.

Musim calon ratu adalah faktor kegagalan kedua setelah semut kabur.

Artikel ini hanya sebagai masukan berdasarkan pengalaman ternak KrotoJogja, semoga sedulur2 sekalian memahami beberapa kesulitan beternak semut kroto (rangrang) sebelum memulai.

Sehingga ada kesiapan jika terjadi masalah dalam beternak. Silahkan monggo melihat2 ke kandang KrotoJogja sebagai referensi atau bahan pertimbangan sebelum berbudidaya. Maturnuwun…

Bersambung..

Related Images: