Kroto dan Bisnis Pembohongan Publik

Secara harfiah, kroto dapat diartikan sebagai larva dan pupa semut rangrang. Berfungsi utama sebagai suplemen pakan burung terutama burung kicau. Dan ini benar, banyak pihak bahkan dari jaman dahulu sejarah kroto berkaitan erat dengan burung sebagai piaraan eksklusif manusia. Beberapa jg menggunakan sebagai pakan hewan lain seperti ikan. Seiring berkembangnya penelitian dan budaya, kroto juga dikonsumsi manusia sebagai makanan tambahan, obat dan kosmetik.

Sampai titik ini semua masih benar. Sesederhana itu saja..

Sedikit cerita, beberapa saat lalu saya berbincang dengan seorang petani. Dan dari obrolan singkat kami, dapat saya tulis disini bahwa hasil pertanian beliau menurun daripada 3 atau 4 tahun yang lalu. Hama penyebabnya. Belalang, ulat, wereng, dan lain-lain.

Ingat tahun 2012 berita tentang merebaknya tomcat serangga kecil penyengat di televisi? Jutaan ulat bulu di beberapa daerah terutama Jawa Timur 2011 yang meresahkan? Dan masih banyak lagi.

Beberapa fakta diatas hanyalah sebagian contoh kecil yang kita temukan di sekitar kita. Masih banyak lagi. Apakah alam, musim, atau kehebatan perkembangan populasi dari serangga tersebut yang kita salahkan? Tidak.

Alam tidak pernah salah, dan musim akan tetap menjaga keseimbangan meskipun kemarau dan penghujan mempunyai perbedaan mendalam. Sebagai contoh, untuk keseimbangan rantai makanan dari ulat dan serangga lainnya maka harus ada predator. Salah satunya adalah semut rangrang.

Manusia adalah penyebabnya. Tanpa campur tangan buruk manusia, alam akan tetap seimbang. Dan jika berdasar kasus seperti paparan diatas, sedikit banyak dapat kita simpulkan bahwa penyebabnya tak lain adalah perburuan semut yang menggila. Kenapa semut rangrang sangat memberi perbedaan. Selain jumlah koloni yang mampu mengimbangi perkembangan mangsa, bentuk kecil serta penyebaran yang mudah menjadi faktor pokok dalam posisi semut rangrang dalam habitat komunitas serangga. Orang luar menyebut semut penenun (weaver ant) atau dalam bahasa ilmiah Oecophylla Smaragdina.

 

perburuan krotoDirunut dari konsumen utama yakni burung-burung premium yang notabene dimiliki orang-orang premium pula, mendongkrak harga menjadi sangat mahal. Ditambah lagi dengan khasiat-khasiat istimewa yang ada pada kroto utk obat dan kosmetika.

Harga menjadi melambung. Mahal untuk ukuran telur hewan yang melimpah di sekitar kita. Dan dari sini penyimpangan mulai banyak terjadi. Bisnis kroto disalahgunakan oleh pihak-pihak yang hanya ingin meraup untung. Yap..tanpa mempertimbangkan berbagai macam hal yang bisa merugikan orang lain. Ironisnya, hal ini dilakukan kebanyakan oleh orang yang sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang kroto sebelumnya.

Ledakan Bisnis Kroto

Booming beternak semut pun terjadi. Dan ini memicu banyak orang untuk ikut bergelut dalam bisnis ini. Mulai dari berbondong-bondongnya peternak baru yang menarik penjual bibit karbitan tentu saja. Tanpa pengetahuan budidaya yang memadai namun dengan ilmu marketing yang luar biasa hebat. Hal ini juga diperkeruh oleh gencarnya media mengekspos kesuksesan peternak. Yang saya yakin data nya bisa dipastikan salah.

Njenengan semua pasti pernah lihat di bbrp stasiun TV atau radio dan media cetak. Tak tanggung-tanggung, media besar yang menulis. Tidak hanya satu, tapi banyak! Saya termasuk salah satu yang sering didatangi wartawan atau penulis buku. Dan yang saya sayangkan, apa yang keluar kemudian tidak sama dengan hitungan yang saya utarakan. Tentang kesulitan beternak, hasil, dan rata-rata pendapatan.

Ingat pula ada yang meraup puluhan bahkan ratusan juta rupiah dari beternak semut rangrang. Coba njenengan telusuri. Pasti bukan hasil murni dari menjual telur kroto hasil budidaya sendiri. Pedagang masih mungkin masuk dalam hitungan. Kebanyakan penjual bibit, dengan iming-iming impian bahwa harga mahal dengan modal sedikit. Bisa dilakukan di lahan sempit bla bla bla dan sebagainya. Tehnik berdagang pun bermacam-macam. Mulai dari jual beli lepas, plasma, pelatihan, usaha bersama, koperasi, dan lain-lain. Bahkan beberapa saat lalu saya dilapori bahwa di Jawa Timur dan Jogja ada MLM berbasis produk ternak kroto. Ragam jualnya pun bermacam-macam. Modul, buku panduan, bibit, ratu, pakan sampai obat stimulan peternakan semut.

Saya tidak iri dengan hasil dari lingkaran setan bisnis semut. Juga tidak memutuskan untuk tergiur. Meski banyak pihak yang menawarkan kerjasama, dan jika ada orang yang paling sering ditawari rekanan bisnis semut dengan segala model-modelnya, itu adalah saya. Meskipun, dengan kehati-hatian saya, masih saja sempat beberapa kali kecolongan termanfaatkan. Mulai dari penyediaan bibit utk instansi, kelompok tani, maupun pelatihan oleh EO yang setelah saya cari tahu ternyata fiktif.

Blunder

Tidak ada hukum yang bisa menjerat, karena memang itu terjadi dari sebab akibat. Fenomena hebohnya juga menghipnotis banyak orang. Banyak yang sebenarnya tertipu, tapi dengan senang tidak merasa tertipu. Banyak yang menipu namun mereka tidak tahu bahwa itu adalah menipu. Semua hanya ikut arus. Jauh lebih rumit karena hampir semua kalangan ikut andil.

Meskipun, tidak semua seperti itu. Banyak juga kawan-kawan yang serius mendalami ilmu budidaya semut kroto ini yang berhasil dengan murni hasil budidaya kroto. Sukses? Iya, benar. Tapi kaya dengan ratusan juta? Tidak. Hasil kroto tidak seistimewa itu.

Jika ada yang memang bisa menghasilkan ratusan juta per bulan dari ternak kroto, memang mungkin saja. Tapi pastinya dia sudah memiliki lahan yang sangat luas dengan tenaga sumber daya yang luar biasa. Dan pastinya, sudah beberapa tahun beternak. Karena menurut hemat saya, hampir tidak ada peternak semut yang sukses tanpa berhasil melewati tahun pertama. Tepatnya periode semut jantan.

Miris. Seperti itulah kira-kira yang kami rasakan di KrotoJogja. Ketika kami memulai meneliti budidaya semut rangrang beberapa tahun lalu, tepatnya 2008. Dan mulai publikasi kecil 2009 agar mendapatkan bantuan pemikiran krn kami sadar bahwa beternak semut memang sangat sulit. Saya tidak mengira efeknya akan bermacam-macam. Dan penyimpangan usaha ternak menjadi sangat jauh dari pokok pikiran utama mencari solusi budidaya.

Semut Kroto Mengajarkan Sistem Koloni Sosial

Masih banyak celah untuk mencari solusi penghasilan, dengan mempertimbangkan etika dan sosial kita. Jangan sampai usaha kita tercemar dengan setitik omong kosong demi keuntungan cepat. Pahami tatacara budidaya, sehingga keuntungan maupun gambaran kerugian bisa kita perhitungkan. Kematian semut akibat dari kelalaian kita dalam mempelajari juga dapat diminimalkan. Jangan sampai makhluk istimewa ini banyak mati sia-sia karena kebodohan kita.

Untuk kawan-kawan penjual bibit maupun semua keperluan pendukung beternak, berikan paparan jelas. Tanpa ada hal tersembunyi yang berpotensi merugikan. Sehingga tidak hanya hubungan jual beli saja yang kita dapatkan, karena sadar atau tidak kita pasti selalu akan bersinggungan.

Maturnuwun..

 

Print Friendly, PDF & Email

Related Images: